Wednesday, August 17, 2011

MERDEKA!

Selalu, setiap tahun nya mendekati 17 Agustus, pembahasan masalah nasionalisme menjadi makin gencar. Nasionalisme seakan segalanya, hingga masing-masing bagian dari dunia saya pun ikut terseret dalam raungan nasionalisme. 
Mulai dari semangat nasionalisme anak muda yang katanya luntur, serentetan masalah bangsa yang tiba-tiba di-list rapi oleh orang-orang di social media, hingga omongan tentang fashion yang nasionalisme.
Lalu apa itu nasionalisme?  Menurut Wikipedia,
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. 
Lalu ada satu kata lagi yang jarang diucapkan, namun punya sebatas garis tipis dengan nasionalisme. Chauvinisme! Apakah itu?  Sekali lagi menurut Wikipedia,  
Sauvinisme atau sovinisme (bahasa Inggris: chauvinism) adalah ajaran atau paham mengenai cinta tanah air dan bangsa (patriotisme) yang berlebihan [1]. Makna ini kemudian diperluas hingga mencakup fanatisme ekstrem dan tak berdasar terhadap suatu kelompok yang diikuti
Nah, kadang banyak orang (termasuk saya) sering tanpa sengaja menukar makna dan pengamalan dua kata di atas. Menurut hemat saya, Nasionalisme itu baik dan harus. Sedfangkan Chauvinisme ini seperti setan yang mengintai, sering kita menjalankan berdasarkan godaan nya tanpa sadar. Dan ya, ini tidak baik. 
Masih ingat, beberapa waktu lalu, saya menulis status di sebuah akun social media, "Makan malam: spaghetti dan orange aquash.". lalu seperti biasa banyak bermunculan komen dari teman-teman sesama penghuni social media. Salah satunya membuat saya jengah. Teman saya itu berkomentar " Mana nasionalisme nya, sok kebarat-baratan. Mending makan PECEL!" 
Hal-hal seperti di atas, mungkin tak sadar muncul tiap hari. Semakin dekat dengan 17an, makin sering hilir mudik, baik di kehidupan sehari-hari, juga di raah social media. 
Orang-orang mulai berujar atau menulis " Tunjukkan nasionalisme lo, jangan tonton film asing!" atau "Ngapain makan di fast food kapitalis a la barat, mending tunjukin nasionalisme lo!"
Lalu saya mulai bertanya (sambil menyumpah serapah tentunya) "Apakah mereka benar-benar mudeng arti Nasionalisme? Atau jangan-jangan memang kami berbeda frekuensi soal kepemahaman ini."
Karena ini tulisan representasi diri saya, hal-hal yang mereka sebut nasionalis itu saya rasa lebih cocok dikategorikan dalam chauvinisme. 
Nasionalisme itu memang tak cuma dalam hati, namun perlu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, namun bukan berarti kita diperbudak oleh chauvinisme hingga lambat dalam memajukan bangsa dan negara ini karena terkungkung kefanatikan yang sempit. 
Sama seperti tak mengunggah avatar bendera merah putih, bukan berarti saya tak mengibarkannya dengan bangga dalam hati.

Dirgahayu Republik Indonesia! 
Merdeka!

Thursday, August 11, 2011

KAZAKI - LOVE

It's more than fashion. 
It's more than art. 
It's more than anything. 
It's crazy. 
It's Kazaky - Love.



video courtsey youtube.com

Tuesday, August 9, 2011

Why September Issue Is So Important?

Dalam dunia majalah, terutama majalah fashion september issue atau edisi september begitu pentingnya. Fakta the world thickest and heaviest september issue masih dipegang oleh Vogue US dengan total 840 halaman dalam edisi nya di September 2007.
Lalu kenapa september issue begitu penting dan mencuri perhatian?

The Holy Vogue September 2007
"September is the January in fashion!"
Pada September lah trend yang diatur sesuai musim berganti, dari spring/summer ke fall/winter. Pergantian ini tidak saja bergantinya trend dari light and colorful ke glam and rich in everything, tapi juga berarti berganti nya semua mood dalam industri ini. Iklan dan campaign spring/summer ditarik dari peredaran dan diganti dengan aktualisasi fall/winter. Itulah kenapa seringkali september issue adalah edisi majalah dengan prosentasi iklan terbanyak, bisa hampir 80%.
Namun jangan khawatir, majalah yang baik seharusnya bisa memilih mana iklan yang layak dicantumkan dan mana yang harus ditolak. Seringkali iklan dan campaign tak jauh berbeda dari sebuah fashion spread dan fashion editorial. Sama-sama dikerjakan dengan sangat niat, melibatkan fotografer handal, model dan muse kenamaan (yang tak jarang melewati serangkaian seleksi untuk menjadi sang "wajah" baru), dan stylist serta team work yang hebat.
Memandangi lembar demi lembar campaign ini seakan memberi kita informasi, what's in and what's out. Apa yang sedang atau akan jadi trend, apa yang harus kita beli dan punya, dan mana yang sudah saatnya disemedikan dalam lemari kita. Bisa jadi semua campaign itu adalah informasi seperti halnya lembar demi lembar tulisan para editor fashion yang memilih trend apa yang akan "berjaya" musim tersebut.

Yah, september issue adalah edisi terpenting selain edisi ulang tahun majalah yang bersangkutan. Di sini lah trend terbaru dijabarkan untuk semusim ke depan. disinilah departement store dan designer berlomba-lomba menaruh campaign nya untuk meraup puluhan juta dollar pendapatan dari penjualan baju di industri ini, di sinilah para fashion concious people berlomba-lomba mengaktualisasi diri dalam lembar demi lembar "kitab suci" dunia fashion.

Jika anda pernah melihat film semi dokumenter September Issue, inilah sekelumit cerita di balik "the holy september issue". Bila belum tontonlah. Film yang menceritakan kisah di balik layar proses pembuatan Vogue edisi September 2007 ini bisa membantu kita dalam mencari jawaban pertanyaan di awal tulisan ini.

And now, I ask you the same question: Why September Issue Is So Important (for you)?

Sunday, July 24, 2011

Fashion Police #QUOTE

"Fashion Police comments and critics on  fashion and style to upgrade your looks. Face-and-Body-Police are arguing with God about His creation!"
 - Juris Bramantyo, Fashion Stylist

Thursday, July 21, 2011

The Sartorialist - Intel Visual Life

You know, i am the HUGE fans of Sartorialist.
The blog http://thesartorialist.blogspot.com is really really affected to me. And Scott Schumann, the person behind the blog is very inspiring.
This short movie, is about The Sartorialist, about how Scott Schumann capture every single street style that change the world!
The Sartorialist - Intel Visual Life 

Tuesday, July 19, 2011

Batik and Ikat Go International

Bangga rasanya melihat kain-kain asli Indonesia yang maha kaya dalam hal craftmanship ini muncul di runway designer international. Dari Milan, Paris, dan kini London.
Dalam fashion week Spring 2010 Frida Gianini dari rumah mode Gucci mengeluarkan koleksi cocktail dengan tema Tribal yang menggunakan Ikat (kain tenun dan motif tenun khas Indonesia - terutama Sumbawa). 
Sementara Dries van Noten dalam koleksi Fall 2010 mengeluarkan pesona kain-kain Asia tenggara. batik dengan motif parang pun disulap menjadi berbagai dress, skirt, dan pakaian yang indah. Selain itu ragam batik Madura yang penuh warna dijadikan celana, jacket dan rok berdetai draperi yang indah. 
Kini Burberry mengeluarkan koleksi Spring 2012 juga menggunakan Ikat yang menawan. Dipadu dengan fabrics yang nyaman, membuat tampilan khas Burberry.
Nah, kenapa kita, yang katanya bangsa Indonesia ini malah malas menggunakan batik, ikat, dan kain-kain tradisional yang maha indah ini dalam kesempatan sehari-hari?
Ini saatnya para designer dalam negeri mengeluarkan koleksi ready to wear berbahan kain tradisional, casual namun tetap dalam balutan budaya. Jangan sampai kain-kain indah tadi hanya muncul sekali setahun dalam kondangan, atau lebih parah lagi, sekali seumur hidup dalam momen pernikahan anda saja!


Koleksi GUCCI SS10



Koleksi Dries van Noten 





Koleksi Burberry SS12



images by style.com

My Favorite Fashion Related Movie

Some movie have strong relation with fashion. Some of them talking about fashion. Some of them has beautiful wardrobe as it shown in fashion show. Some of them called Fashion-Related-Movie.
This are my Top 6 Fashion-Related-Movie.

6. Confession of Shoppaholic 
Film yang diadaptasi dari novel karya penulis chicklit terkenal Sophie Kinsella ini menceritakan tentang Rebecca Blommwood yang kecanduan belanja! Hutangnya menumpuk di mana-mana hingga mempengaruhi kehidupan kerjanya dan sempat mengacaukan kisah cintanya.
I love the book so much! Tapi film nya agak standar, tak terlalu banyak baju indah dan gaya yg menawan. Bagusnya, film ini selalu mengingatkan kita akan dua sisi pedang. Fashion dan Belanja! Keindahan dan Bencana! Semua tergantung kita.

5. Sex and The City 2 
Sequel dari Sex and The City ini disebut-sebut tak "sedalam" yang pertama. Walaupun masih dipenuhi pakaian-pakaian designer ternama, dan masih mampu mempertahankah cast nya yang kompak, nyatanya penonton yang kebanyakan secerdas wanita-wanita New York tokoh utamanya, tetap merasa kalau viewing pleasure bukan segalanya. Ceritanya yang cenderung dangkal menuai banyak olok-olok walaupun setting di Dubai (yang sebenarnya di Marrakech) agak menolong.

4. Pret a Porter / Ready To Wear
Jelas dari judulnya yang merupakan jargon fashion, film ini benar-bear berada dalam lingkungan fashion. Dirilis tahun 1994, film bergenre satir comedy ini menceritakan investigasi pembunuhan dengan setting fashion show ready to wear di Paris.
Robert Altman, sang sutradara, sukses menggandeng bintang-bintang fashion yang berjaya pada masa itu untk menjadi pemeran maupun cameo. Film ini bagus karena sekaligus digunakan sebagai "studi" untuk menyimak trend di tahun 90an.


3. Sex and The City
Diangkat dari serial laris produksi HBO. Dibintangi Sarah Jessica Parker, Kim Catrall, Christin Davis, dan Cynthia Nixon, empat sekawan New Yorker yang kehidupan nya dipenuhi kisah cinta, intrik pekerjaan, dan tentu saja fashion.
Sama seperti serial nya, film ini bertabur busana mewah nan stylish, sepatu pujaan wanita, serta kehidupan khas Big City dambaan semua fashionista. Salah satu scene terfavorit adalah saat Carrie didapuk untuyk menjadi model Vogue dalam sebuah photoshoot dalam berbagai wedding gown. Oscar de Larenta, Alexander McQueen, Yves Saint Laurent dan tentu saja Viviene Westwood. Lengkap pula dengan Andre Leon Talley sebagai cameo!
 2. The Devil Wears Prada 
Inilah film yang paling baik menggambarkan kehidupan fashion, serta penuh dengan gaya fashion yang menawan! Diangkat dari novel laris Lauren Weisberger, dibintangi oleh Anne Hathaway dan Merryl Streep, film ini sukses tak hanya di box office namun juga menjadi buah bibir di dunia fashion.
Peran sang editor in chief disebut-sebut mengikuti role model Anna Wintour sang pemimpin Vogue. Walaupun mungkin tak sekejam dalam film ini, fashion memang kejam!


1. September Issue
Film semi dokumenter ini hampir sempurna menggambarkan apa yang terjadi di balik sebuah edisi majalah fashion laris sepanjang masa. Ya, film ini tentang seluk beluk di balik Vogue US Septeber Issue. Perfeksionitas dan kejamnya fashion industri jelas tergambar di sini. September adalah tahun baru dalam dunia fashion, itu emnyebabkan bulan dan edisi ini menjadi sangat penting. Dimana trend berubah dr Srping/Summer ke Fall/Winter.
Anna Wintour ang editor in chief, Grace Coddington sang creative director, Andre Leon Talley sang editor at large, dan Hamish Bowles adalah nama-nama dibalik kesuksesan kerajaan media fashion di bawah Si Newman sang empunya Conde Nast. Tak ketinggalan fotografer terkenal sekaliber Pattrick Demarchelier dan Mario Testino, serta model Coco Rocha dan Raquel Zimmerman pun turut membintanginya. Yang lebih mengesankan adalah banyaknya desgner yang berpasrtisipasi, mulai dari Vera Wang, Gaultier, Galliano, sampai Thakoon Panichgul yang kala itu terpilih menerima Vogue Fund.
Banyak yang bilang, kisah nyata dibalik Vogue ini lah yang mendasari Devil Wears Prada.
Jika fashion adalah agama anda, Vogue kitab suci yang senantiasa anda anut, dan Anna Wintour adalah sang nabi, maka film ini wajib anda tonton!

Nah that are my Top 6 Fashion-Related-Movie. 
Ada satu lagi film pendek dokumenter tentang fashion buatan Indonesia. Fashion 1 Hari, sayang tidak diputar secara umum dan susah sekali didapatkan.

Monday, July 18, 2011

Fashion Quote

"Banyak yang bilang, fashion sedang kebingungan. For me, Unpredictable is the fashion itself."
Juris Bramantyo, fashion stylist 

They Call Me Weird!

Sering disebut aneh? 
Saya sering. Bahkan ungkapan "Kalo gw pake baju ini bakal dirajam orang se-Jogja nggak ya?!" adalah ungkapan umum yang sering didengar teman-teman dari mulut saya.

Ya, kebiasaan saya adalah menjadi unik. Entah kenapa, dengan being unique rasanya seperti mengatrol beratus-ratus meter rasa percaya diri. Lagipula saya sering ilfil kalau harus menjadi sama seperti orang kebanyakan. Saya bisa berhenti mendengarkan lagu yang sebelumnya saya sukai, kalau tiba-tiba semua orang mulai menempatkannya di playlist masing-masing, mendendangkannya tak hanya di kamar mandi, dan lebih parahnya mulai menjadi groupies dari penyanyi atau musisi tersebut. Intinya saya ga suka jadi templating!
Begitu juga soal penampilan. Prinsip saya know the first, tak peduli nanti saya terapkan dalam keseharian atau tidak. Fashion, trend, dan style yang begitu dinamis membuat saya seperti tak pernah berkedip dalam jejaring informasi fashion and lifestyle! 

Masih ingat sekali tahun lalu, saat di beberapa street style fashion blog seperti Sartorialist dan sebagainya mulai sering mempertontonkan roll up pants dengan sockless shoes, saya pun segera menyukainya dan berusaha mengaplikasinya sebagai gaya pribadi. Alhasil di minggu-minggu pertama komentar semacam, "Kebanjiran di mana lo?" atau "Kehabisan kaos kaki bro?" pun gencar menyambar.

Akhir tahun yang lalu saya sempat "sedikit" berseteru dengan capster salon langganan saya, yang kekeuh tidak mau menuruti intruksi saya untuk memotong rambut saya hilang tandas hanya pada bagian kanan saja. Dia ngotot berujar "Nanti mas dikira orang gila, otak nya miring, kayak kepalanya!"
Dan saya balas berseru ke front desk "Stop, saya mau ganti capster SEKARANG!" Sekarang toh banyak yang mengikuti "kegilaan dan otak miring saya, bahkan perempuan-perempuan cantik berambut indah terurai!

Memang butuh waktu untuk trend baru diterima oleh orang kebanyakan. Tapi begitu diterima, artinya sudah bukan trend lagi buat saya. Basi. Usang. Cheesy. Templating. Biasa. Standar! 

Itulah saatnya saya mulai mencari trend terbaru, menimbang-nimbangnya apakah bisa saya aplikasikan di sini, dan mengkompromikan nya dengan personal style dan signature style saya. Tujuan nya jelas. Saya tak ingin cap Fashion Victim melekat di jidat saya. Karena hakekatnya, fashion, trend, style itu untuk membuat kita nyaman karena memaksimalkan diri kita. Bukan menjajah diri kita!

In the end, saya cuma mau berujar:

"Sudah lah patuhi tugas masing-masing. Tugas anda (dan juga saya) adalah memakai. Tugas mereka mengkritik. Selesailah!"

Thursday, July 14, 2011

RUSSIAN & THAILAND MAGAZINE

Thanks fore my friends, Vika @adityavie and Bang Topik @TopikHidayah for give me the fabulous magazine from the beautiful country! 
Vika, yg kebetulan baru saja ke Ukraine, Russia, dan Hungary untuk modelling dan mempromosikan batik, membawakan Vouge dan Elle edisi rusia yg superb! 
Sementara Bang Topik yang liburan sambil cari sekolah di Thailand membawakan dua majalah yg fresh ini. 

Elle and Vouge Russia 

Thailand Magazines
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...